Mengenang Satu Tahun dalam Pelukan Sang “Gajah”

Tepat setahun yang lalu, siang hari ini saya berjuang untuk mempertahankan thesis saya di dalam ujian sidang pascasarjana S2 opsi Teknologi Media Digital dan Game, STEI, ITB.

Ingat hari ini, ingat masa-masa perjuangan waktu kuliah selama 18bulan yang lalu. Kuliah di ITB ini benar-benar harus menanggung berat beban “Gajah”. Di satu sisi, saya bersyukur impianku selama ini telah Allah SWT kabulkan, bercita-cita kuliah S2 di PTN sebelum usia melewati 40 tahun. Tak tanggung-tanggung saya dapat kuliah di PTN terbaik di Indonesia dan mendapatkan beasiswa penuh dari Kemendiknas melalui LPMP Jawa Barat pas di usia 40 tahun. Subhanallah….! Allah SWT meridloinya, suami dan anak-anak yang selalu mendukung selama masa-masa kuliah, selalu diiringi doa orang tua dan saudara-saudara. Begitu bahagianya saya mendapatkan karunia-Nya.

Rupanya Allah SWT memberikan rahmat dan berkah di awal untuk saya dengan diiringi “ujian-ujian/cobaan-cobaan” berikutnya… Saat itulah beban menanggung berat beban “gajah” mulai terasa. Aktifitas perkuliahan dengan berbagai tugas yang tidak sedikit dan tidak mudah bagi saya begitu menyita waktu dan sangat menantang. Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan dengan baik (tentu sesuai ukuran dan target saya *_^), tetapi beban “gajah” semakin berat ketika berhadapan dengan kerikil-kerikil tajam yang menusuk-nusuk seluruh saraf tubuh di luar lingkungan kampus … hehehe (sedikit lebay!).

Kala saya menikmati aktifitas perkuliahan walaupun tertatih-tatih, permasalahan datang bertubi-tubi, antara lain dibatalkannya keikutsertaan untuk sertifikasi walaupun sudah ada dalam daftar dan dipanggil untuk mengisi format persyaratan portofolio, kemudian tahun berikutnya hampir saja dibatalkan kembali dengan alasan karena sedang menempuh pendidikan di ITB, tetapi saya berjuang untuk dapat mengikuti sertifikasi tersebut karena sesuai aturan saya sudah berhak mengikutinya. Ada beberapa oknum tidak berkenan dengan posisi saya, yang mendapatkan beasiswa, mendapatkan SK melanjutkan pendidikan, dan diperkenankan untuk tidak melaksanakan tugas mengajar padahal sudah dilegalkan oleh SK Walikota. Oknum-oknum itu tidak tahu bahwa ada pedomannya (peraturan pemerintah RI) yang mengatur semua yang saya lakukan. Tak ada dendam, tak ada kebencian yang tertanam, karena saya menyadari itulah seni menanggung berat beban “gajah”! *_^

Walaupun berat beban “gajah” yang dipikul ini tetapi diakhiri dengan kebahagiaan karena tetap ada orang-orang baik yang membantu kelancaran kuliah sehingga dapat diselesaikan dengan baik. Ujian Sidang yang dilaksanakan tepat di hari ulang tahunku berjalan dengan lancar dan lulus, merupakan hadiah terindah pada hari ulangtahunku. Thesisku dapat diselesaikan tepat waktu sesuai targetku yang didukung sepenuhnya oleh suami dan anak-anak, orang tua, saudara-saudara, para pembimbingku, Dr. Ir. Arief Syaichu Rohman dan Dr. Pranoto H. Rusmin, Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.AK. sebagai nara sumberku yang selalu menyediakan waktu untuk saya berkonsultasi, semua bapak dan ibu dosen pengajar yang telah memberian ilmu yang berharganya, para staf admin di kampus, serta teman-temanku satu perjuangan.

“Gajah”yang ini tetap saya suka, dengan menanggung berat beban “gajah”saya mendapatkan hal-hal baru yang menarik dan berbobot, saya mendapatkan “teman-teman”yang berbaik hati untuk berbagi ilmunya, berbagi pengalamannya, membantu dalam kelancaran perkuliahan. Kebahagiaan selalu dirasakan setiap waktunya mengalahkan segala beban berat “gajah” yang memeluk erat, sampai saat ini pun masih saya dapat rasakan. Tak mengapa saya selalu ingat gajah-gajah sebagai alat transportasi, sebagai binatang sirkus, gajah-gajah itu tetap melaksanakan tugasnya tanpa mengeluh, walaupun dengan bawaan berat dan atraksinya yang sulit, perlahan namun pasti gajah-gajah itu pun tetap melangkah dan beraksi…!

Ujian Nasional haruskah???

Sejak Senin kemaren (16/04/2012) telah berlangsung Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/SMK/Aliyah, yang akan berakhir Kamis (19/04/2012) yang serentak diselenggarakan di seluruh Indonesia. UN ini berlangsung di tengah pro dan kontra masyarakat terhadap pelaksanaannya. Saya termasuk orang yang setuju diselenggarakan UN ini. Mengapa???
Seorang guru membutuhkan feed back dari apa yang telah dilaksanakan selama mengajar. UN merupakan salah satu cara mengetahui feed back yang dibutuhkan tersebut. Apakah guru mengajar sudah setaraf Nasional atau belum? Jawaban dapat diperoleh dari nilai hasil UN tersebut.
UN itu terdiri dari soal-soal yang sangat mengacu pada kurikulum yang telah diterbitkan pemerintah/Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud RI), sehingga guru dapat dengan mudah mengevaluasi hasil proses pembelajaran yang telah dilakukan. Oleh karena itu, UN alangkah baiknya tidak sebagai standar kelulusan secara mutlak supaya tetap terjaga kemurnian proses UN-nya. UN dapat digunakan sebagai salah satu alat ukur keberhasilan seorang guru mengajar Mata Pelajaran tertentu.
UN bukanlah satu-satunya tolak ukur keberhasilan pendidikan di suatu daerah. Kita dapat melihat berhasil tidaknya pendidikan di suatu daerah dari pemberdayaan masyarakatnya. Misalnya, apakah masyarakat suatu daerah kesejahteraannya sudah merata, budaya jujur, santun dan berempati dalam perilaku bermasyarakat sudah terwujud, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar sudah tinggi, dll??? Apabila jawaban untuk beberapa pertanyaan tersebut adalah “sudah”, maka kita dapat mengatakan pendidikan di suatu daerah tertentu berhasil. Pendidikan bukan tanggung jawab sekolah semata, pendidikan tanggung jawab bersama antara orang tua, pemerintah, dan masyarakat.
Keberhasilan dalam pendidikan (baca: UN) bukan sebagai sebuah gengsi yang harus didengung-dengungkan supaya gaungnya terdengar seantero nusantara, tetapi keberhasilan pendidikan akan dapat kita rasakan 10-20 tahun ke depan. Jadi seperti apakah bangsa ini setelah 10-20 tahun ke depan? Generasi yang penuh kejujuran, penuh daya juang, konsisten, dan berkomitmen serta berdedikasi untuk mensejahterakan keluarganya, masyarakatnya, dan bangsanya kah? Ataukah menjadi generasi yang penuh kebohongan, kepalsuan, kecurangan, dan kesemuan, serta tidak peduli akan keluarganya, masyarakatnya, dan bangsanya?
Mari kita renungkan bersama mau seperti apa pendidikan yang akan kita ciptakan untuk generasi muda penerus bangsa dalam rangka memajukan dan mencerdaskan bangsa Indonesia!!!

(Kutuliskan pemikiran ini sambil menemani tidur anak bungsuku. Anak2ku seperti apakah duniamu di masa datang?)

Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan

Baru saja saya membuka situs kemdiknas.go.id, ada hal yang seharusnya saya informasikan kepada teman-teman guru yang mungkin tidak sempat membaca atau memang belum mengetahuinya tentang Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Permendiknas RI) Nomor 10 Tahun 2009 dan Permendiknas RI Nomor 11 Tahun 2011 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan.
Pada Pasal 2 Ayat 2 Permendiknas No. 10/2009 diperbaharui pada Pasal 4 Ayat 2 Permendiknas No. 11/2011, dijabarkan bahwa uji kompetensi/sertifikasi dapat diikuti oleh guru dalam jabatan yang “memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV); belum memenuhi kualifikasi akademik S-1 atau D-IV apabila sudah mencapai usia 50th dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru atau mempunyai golongan IV/a atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/a; dan telah diangkat menjadi guru sebelum tanggal 30 Desember 2005.
Tercantum dengan jelas guru-guru yang berhak mengikuti sertifikasi.
Semoga informasi ini bermanfaat , sehingga tidak ada guru-guru yang dirugikan ^_^

Bahagianya berprofesi GURU

Hari ini, pkl. 04:45PM saya menerima sms dari seorang murid saya yang lulus SMA 4tahun yang lalu, Zamzam Nursani, dengan bunyi seperti ini: “Alhamdulillah.. Lulus cumlaude bu.. Terimakasih..
Ibu telah menjadi bagian paling berarti dlm pencapaian terbaik saya selama ini.. ” Terharu, gembira, bangga, dan tidak dapat berkata-kata…
Terimakasih anakku, engkau telah membuat gurumu ini bahagia. Juga untuk anak2ku yang lainnya, yang selalu ingat ibumu ini… (Maaf tidak bisa disebutkan satu-satu, diantaranya anak2 biosmart yang sudah lulus maupun yang sedang melanjutkan pendidikan tinggi)^_^
Saya baru bisa merasakan sangat bergunanya seorang guru ketika murid-muridnya dapat merasakan peran guru bagi masa depan mereka.
Selain dituntut profesionalismenya, guru mempunyai kesempatan menghantarkan generasi muda meraih cita-cita dan harapannya…
Untuk Zamzam:
“Selamat atas prestasi yang telah diraih sebagai lulusan terbaik. Semoga ilmu yang engkau peroleh dapat bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan adik2 di almamater, serta berguna juga untuk masyarakat.
Terimakasih ya, mau melanjutkan “perjuangan” ibu.”
Doa ibu selalu menyertaimu… *_^

Orang Miskin yang Jadi “Orang”

Malam tgl 8 Juli, saya menonton acara reality show “Kick Andy”. Ternyata sangat menarik untuk disaksikan. Rasanya saya sudah lama tidak menonton televisi lokal, karena lagi kecanduan nonton film seri produksi TV-TV Amerika seperti CSI-All dan NCIS yang memperlihatkan kecanggihan dunia digital dalam mengatasi masalah kriminalitas.
Tapi, saat itu kebetulan ganti channel ke metro tv pas acaranya wajib disaksikan karena memberikan pembelajaran kepada penontonnya.
Dalam acara tersebut antara lain diceritakan keberhasilan Ir. Ciputra membangun bisnis property, sehingga bisnis keluarga tersebut dapat diwariskan kepada anak-anaknya…
Yang paling saya garisbawahi, ternyata keberhasilannya tersebut tidak diperoleh seperti sulap, abrakadabra, dalam sekejap kesuksesan dapat diraih!!! Tetapi kesuksesan diraih karena kerjakerasnya, tanggung jawabnya, dan disiplinnya serta mental pantang menyerah serta Ciputra juga taat beragama.
Tak ada keluhan karena dia orang miskin, sejak usia 12tahun ditinggal orang tuanya. Ia berjuang sendiri, dengan memanfaatkan kecerdasan, kepinteran, dan ketekunan maka ia dapat melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang tertinggi, tidak tanggung-tanggung Perguruan Tinggi (PT) yang dipilihnya pun Institut Teknologi Bandung. Saat itu merupakan PTN terbaik dan favorit.
Ciputra, salah satu contoh dari sekian banyak contoh serupa yang sangat baik untuk generasi muda, orang tua, dan masyarakat Indonesia. Keberhasilan dan kesuksesan dapat diraih bukan karena faktor uang yang utama! Diri sendirilah yang dapat menentukan sukses tidaknya dalam kehidupan… ^_^
Untuk masa kini, banyak murid-murid saya dapat melanjutkan pendidikan tanpa meributkan biaya masuk ke PTN favorit yang mereka inginkan. Padahal setahu saya mereka bukan dari keluarga yang kekayaannya melimpah, tetapi mereka memiliki impian, kecerdasan, kepinteran, ketekunan, disiplin, tanggung jawab, dan mental berkompetisi yang kuat serta keimanan sebagai bekal mereka meraih kesuksesan dan keberhasilan yang diharapkan. Akhirnya, beasiswapun mereka raih, sehingga tidak dipusingkan soal biaya pendidikan.
Saya ingat akan sebuah ceramah yang disampaikan seorang ustadz, ketika manusia berprasangka baik maka Allah SWT pun akan berprasangka baik, tetapi ketika manusia berprasangka buruk maka Allah SWT pun akan berprasangka buruk (mudah2an saya tdk salah ketika menyimak ceramah tersebut). Saya berpikir ketika kita punya mimpi, maka Allah SWT akan mengiringinya dan mewujudkannya kalau untuk kebaikan. Insya Allah…
Jadi, siapa bilang pendidikan hanya untuk orang kaya?

Pendidikan untuk Orang Kaya, tidak untuk Orang Miskin

Beberapa hari ini ramai dibicarakan mengenai pelayanan pendidikan untuk warga miskin yang tidak adil. Beberapa pendapat muncul bahwa pendidikan yang berkualitas hanya dapat dinikmati oleh masyarakat yang berkecukupan secara ekonomi(baca: orang kaya), tidak untuk masyarakat yang kekurangan secara ekonomi(baca: orang miskin). Benarkah demikian?

Kalau boleh saya berpendapat, selama 15 tahun berkecimpung di dunia pendidikan rasanya tidak ada tuch yang membedakan pendidikan untuk orang kaya dan orang miskin. Kalau pun ada perbedaan hanya karakter siswa dalam proses pembelajaran….

Banyak keluhan disampaikan oleh orang tua siswa, mahalnya biaya pendidikan!!! Keluhan disampaikan tidak hanya oleh orang tua yang katanya miskin, tetapi orang yang berkecukupan pun masalah biaya pendidikan ini dipermasalahkan…

Saya tidak habis pikir biaya pendidikan masuk ke SMP/SMA Negeri ketika daftar ulang dikenakan sebesar Rp. 3 jt – Rp. 5 jt hanya 1 kali selama 3 tahun proses belajar di sekolah begitu ramai dipermasalahkan, karena dengan dalih orang miskin tidak mampu memenuhinya. Jadi, anak orang miskin yang pintar tidak dapat mengenyam pendidikan di sekolah favorit.

Saya balik bertanya, sebetulnya kriteria miskin dan kaya itu apa ya?

Menurut saya, orang miskin itu mempunyai penghasilan tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-harinya. Tetapi yang sering saya lihat dan amati, orang tua yang keberatan membayar biaya pendidikan itu orang tua yang memfasilitasi anak-anaknya dengan gadget terbaru…

Bagaimana dengan hal seperti ini?

Banyak sekolah-sekolah negeri yang memfasilitasi siswa-siswinya yang memang benar-benar tidak mampu untuk tidak memikirkan biaya pendidikan, yang tentunya dengan mengikuti prosedur terlebih dahulu. Hal ini tidak pernah/jarang muncul ke permukaan/media. Akhirnya berkembang opini bahwa pendidikan hanya untuk orang kaya, tidak untuk orang miskin.

Padahal tidak sedikit siswa dari keluarga tidak mampu karena ketekunannya, kerajinannya, dan semangatnya dalam belajar dapat meraih sukses di kemudian hari, sehingga dapat meningkatkan derajat keluarganya menjadi lebih baik tanpa selalu mengeluh… dan mengeluh…

Bukan karena mampu membayar bimbingan belajar, bukan karena banyak uang, seseorang dapat meraih kesuksesan! Tetapi ketekunan dan semangat belajar serta mempunyai cita-cita, siswa itu dapat meraih sukses tanpa harus berpikir saya harus sekolah di sekolah favorit baru dapat meraih kesuksesan.

Kebiasaan berpikir positif lah yang dapat membawa orang memperoleh hal-hal positif.

BE POSITIVE THINKING!!!

Guruku

Di antara kegiatan menulis tesis, saya menemukan sebuah panduan yang terbitkan kemdiknas. Menarik untuk dibaca! Ingin tahu apa isinya?

Pada Buku I: Panduan Pengembangan Pendekatan Belajar Aktif tertulis pada halaman 61-63 tentang Indikator Sekolah yang Melaksanakan Belajar Aktif. Tertulis bahwa indikator terjadinya proses belajar yang aktif dan kreatif pada pengaturan sekolah, ditinjau dari aspek sumber daya manusia, antara lain disebutkan:

1. guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar;

2. guru mengenal baik nama-nama peserta didik;

3. guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian;

4. sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik dan verbal kepada peserta didik;

5. guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelolala kelas dan mengembangkan kegiatan belajar;

6. guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik.

Apakah kita yang berprofesi guru sudah melakukan semua hal tersebut di atas? Mari kita renungkan bersama… ^_^

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.