Konsisten dalam Bekerja

Kemarin sekolah kami kedatangan tamu, tentunya diterima dengan baik. Tetapi saat minta data peserta UN, terlebih dahulu menanyakan identitas tamu tersebut dan surat tugasnya. Kemudian dengan tersenyum tamu tersebut mengatakan bahwa tidak membawa surat tugas karena dia langsung dari rumah menuju ke sekolah kami. Tentunya saya menolak memberikan apa yang dia minta. Walaupun dia sudah menginformasikan identitasnya secara lisan dengan menyebutkan instansinya.
Akhirnya dengan tersenyum pula dia pulang dengan tangan kosong karena saya tetap bersikeras tidak memberikan informasi yang dimaksud tanpa surat tugas. Saya sampaikan bahwa saya mengikuti aturan yang berlaku. Terlihat dia mengerti maksud saya sambil menanyakan nama saya siapa dan wewenang di sekolah sebagai apa. Dan pulanglah dia….
Tadi siang terdengarlah perbincangan yang cukup mengganggu, saya tentu penasaran karena dengan situasi sedang ujian ada suara yang cukup mencolok terdengarnya. Saya pun menuju ke sumber suara, ternyata ada tamu dari instansi yang sama dengan kemarin. Pimpinan menyerahkan kepada saya untuk mendampingi tamu tersebut. Tamu itu pun menyampaikan identitasnya dan menyampaikan tujuan seperti tamu kemarin dengan informasi tambahan bahwa dia tidak membawa surat tugas. Teteeeep… saya tanya surat tugas! Akhirnya dia menyerahkan kartu identitas korpsnya. Ya saya ambil untuk difotocopy buat arsip kami. Dia panjang lebar menjelaskan kenapa tidak membawa surat tugas. Saya menyimaknya dengan baik dan tetap memperlakukan sebagai tamu. Dia pun menunjukkan foto surat tugas dia yang memang dia tidak ditugaskan untuk ke sekolah kami. Rupanya yang harus bertugas itu memang tamu yang kemarin. Karena telah saya tolak, akhirnya instansinya menugaskan tamu yang hari ini. Daaan saya tetap menanyakan surat tugasnya! ^_^ Akhirnya dia menyampaikan kesalahan administrasi di instansinya dan mohon maaf kepada saya. Saya pun menerima permohonan maafnya karena dia sudah berusaha beritikad baik menyampaikan kekeliruan yang telah dilakukannya. Dia juga mengatakan awalnya segan datang ke sekolah setelah kejadian kemarin ada penolakan, petugas yang lain yang ditugaskan lagi, juga katanya tidak mau takut diperlakukan yang sama, ditolak karena mereka menyadari tidak memiliki surat tugas ya karena ada kekeliruan administrasi di instansinya. Akhirnya mau tidak mau tamu yang hari ini harus mau datang dengan harapan tidak ditolak karena dia kenal dengan beberapa teman kami di sekolah. Tapi ternyata teman-temannya sudah tidak berdinas di sekolah kami. Dia bercerita, agak khawatir kejadian kemarin terulang, tapi dia tetap mencari pimpinan sekolah karena dia pulang harus membawa laporan monitoring UN. Ketemu saya tetaaaap diminta surat tugas. Berkali-kali dia minta maaf atas hal tersebut. Saya pun dengan terbuka memberikan informasi yang diperlukan setelah dia dengan terbuka pula menunjukkan kartu identitas dan no hpnya. Saya percaya setelah berbincang panjang lebar kami mempunyai topik pembicaraan yang sama dan dia memahami topik tersebut. Mencairlah suasana karena kami dapat bersinergi untuk kepentingan bersama.

Dalam hal ini kami sama-sama pelayan masyarakat yang tetap harus berkomitmen mentaati peraturan yang berlaku, tidak ada yang lebih berwenang daripada yang lain. Ketika peraturan tidak berjalan, kita harus tetap berusaha menjalankan peraturan tersebut tanpa takut kita berhadapan dengan siapa. Kegiatan UN dapat berlangsung dengan lancar, tanggungjawab instansi tersebut juga terlaksana.

Kegiatan UN yang menarik…. *_^ **ternyata tamu kemaren intel…!hehehe… maaf ya Pak saya tolak, saya menjalankan tugas dan tanggung jawab.

Kesuksesan Abadi

Hari ini, ada hal yang menarik dari perbincangan yang berlangsung dengan seorang murid di pagi hari tadi.

Dia bercerita bahwa telah mengikuti tes ke sebuah Perguruan Tinggi Swasta, tetapi keberhasilan belum berpihak kepadanya. Tidak mengapa, dia akan mencoba kembali pada gelombang ke-2.

Tidak terlihat kekecewaan yang mendalam pada raut wajahnya dengan kegagalan tersebut karena dia mempunyai rencana lain bagi masa depannya. Dia akan mencoba mengikuti tes ke akademi militer. Usahanya cukup gigih, dia sudah mempersiapkan diri secara fisik sejak tahun lalu. Salut akan perjuangannya untuk meraih keberhasilan dapat lolos tes seleksi akademik dan fisik.

Saya berharap dia terus berjuang untuk meraih kesuksesan memasuki dunia militer dengan terus bekerja keras tanpa tergiur mengambil jalan pintas!

Berjuanglah nak dengan kekuatan fisikmu, kemampuan akademikmu, keimananmu, bukan dengan uang orang tuamu untuk meraih kesuksesan!

Kesuksesan abadi diraih karena kerja keras dan berdoa. Mintalah doa yang tulus dari Ibumu…!

Mengenang Satu Tahun dalam Pelukan Sang “Gajah”

Tepat setahun yang lalu, siang hari ini saya berjuang untuk mempertahankan thesis saya di dalam ujian sidang pascasarjana S2 opsi Teknologi Media Digital dan Game, STEI, ITB.

Ingat hari ini, ingat masa-masa perjuangan waktu kuliah selama 18bulan yang lalu. Kuliah di ITB ini benar-benar harus menanggung berat beban “Gajah”. Di satu sisi, saya bersyukur impianku selama ini telah Allah SWT kabulkan, bercita-cita kuliah S2 di PTN sebelum usia melewati 40 tahun. Tak tanggung-tanggung saya dapat kuliah di PTN terbaik di Indonesia dan mendapatkan beasiswa penuh dari Kemendiknas melalui LPMP Jawa Barat pas di usia 40 tahun. Subhanallah….! Allah SWT meridloinya, suami dan anak-anak yang selalu mendukung selama masa-masa kuliah, selalu diiringi doa orang tua dan saudara-saudara. Begitu bahagianya saya mendapatkan karunia-Nya.

Rupanya Allah SWT memberikan rahmat dan berkah di awal untuk saya dengan diiringi “ujian-ujian/cobaan-cobaan” berikutnya… Saat itulah beban menanggung berat beban “gajah” mulai terasa. Aktifitas perkuliahan dengan berbagai tugas yang tidak sedikit dan tidak mudah bagi saya begitu menyita waktu dan sangat menantang. Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan dengan baik (tentu sesuai ukuran dan target saya *_^), tetapi beban “gajah” semakin berat ketika berhadapan dengan kerikil-kerikil tajam yang menusuk-nusuk seluruh saraf tubuh di luar lingkungan kampus … hehehe (sedikit lebay!).

Kala saya menikmati aktifitas perkuliahan walaupun tertatih-tatih, permasalahan datang bertubi-tubi, antara lain dibatalkannya keikutsertaan untuk sertifikasi walaupun sudah ada dalam daftar dan dipanggil untuk mengisi format persyaratan portofolio, kemudian tahun berikutnya hampir saja dibatalkan kembali dengan alasan karena sedang menempuh pendidikan di ITB, tetapi saya berjuang untuk dapat mengikuti sertifikasi tersebut karena sesuai aturan saya sudah berhak mengikutinya. Ada beberapa oknum tidak berkenan dengan posisi saya, yang mendapatkan beasiswa, mendapatkan SK melanjutkan pendidikan, dan diperkenankan untuk tidak melaksanakan tugas mengajar padahal sudah dilegalkan oleh SK Walikota. Oknum-oknum itu tidak tahu bahwa ada pedomannya (peraturan pemerintah RI) yang mengatur semua yang saya lakukan. Tak ada dendam, tak ada kebencian yang tertanam, karena saya menyadari itulah seni menanggung berat beban “gajah”! *_^

Walaupun berat beban “gajah” yang dipikul ini tetapi diakhiri dengan kebahagiaan karena tetap ada orang-orang baik yang membantu kelancaran kuliah sehingga dapat diselesaikan dengan baik. Ujian Sidang yang dilaksanakan tepat di hari ulang tahunku berjalan dengan lancar dan lulus, merupakan hadiah terindah pada hari ulangtahunku. Thesisku dapat diselesaikan tepat waktu sesuai targetku yang didukung sepenuhnya oleh suami dan anak-anak, orang tua, saudara-saudara, para pembimbingku, Dr. Ir. Arief Syaichu Rohman dan Dr. Pranoto H. Rusmin, Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.AK. sebagai nara sumberku yang selalu menyediakan waktu untuk saya berkonsultasi, semua bapak dan ibu dosen pengajar yang telah memberian ilmu yang berharganya, para staf admin di kampus, serta teman-temanku satu perjuangan.

“Gajah”yang ini tetap saya suka, dengan menanggung berat beban “gajah”saya mendapatkan hal-hal baru yang menarik dan berbobot, saya mendapatkan “teman-teman”yang berbaik hati untuk berbagi ilmunya, berbagi pengalamannya, membantu dalam kelancaran perkuliahan. Kebahagiaan selalu dirasakan setiap waktunya mengalahkan segala beban berat “gajah” yang memeluk erat, sampai saat ini pun masih saya dapat rasakan. Tak mengapa saya selalu ingat gajah-gajah sebagai alat transportasi, sebagai binatang sirkus, gajah-gajah itu tetap melaksanakan tugasnya tanpa mengeluh, walaupun dengan bawaan berat dan atraksinya yang sulit, perlahan namun pasti gajah-gajah itu pun tetap melangkah dan beraksi…!

Ujian Nasional haruskah???

Sejak Senin kemaren (16/04/2012) telah berlangsung Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/SMK/Aliyah, yang akan berakhir Kamis (19/04/2012) yang serentak diselenggarakan di seluruh Indonesia. UN ini berlangsung di tengah pro dan kontra masyarakat terhadap pelaksanaannya. Saya termasuk orang yang setuju diselenggarakan UN ini. Mengapa???
Seorang guru membutuhkan feed back dari apa yang telah dilaksanakan selama mengajar. UN merupakan salah satu cara mengetahui feed back yang dibutuhkan tersebut. Apakah guru mengajar sudah setaraf Nasional atau belum? Jawaban dapat diperoleh dari nilai hasil UN tersebut.
UN itu terdiri dari soal-soal yang sangat mengacu pada kurikulum yang telah diterbitkan pemerintah/Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud RI), sehingga guru dapat dengan mudah mengevaluasi hasil proses pembelajaran yang telah dilakukan. Oleh karena itu, UN alangkah baiknya tidak sebagai standar kelulusan secara mutlak supaya tetap terjaga kemurnian proses UN-nya. UN dapat digunakan sebagai salah satu alat ukur keberhasilan seorang guru mengajar Mata Pelajaran tertentu.
UN bukanlah satu-satunya tolak ukur keberhasilan pendidikan di suatu daerah. Kita dapat melihat berhasil tidaknya pendidikan di suatu daerah dari pemberdayaan masyarakatnya. Misalnya, apakah masyarakat suatu daerah kesejahteraannya sudah merata, budaya jujur, santun dan berempati dalam perilaku bermasyarakat sudah terwujud, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar sudah tinggi, dll??? Apabila jawaban untuk beberapa pertanyaan tersebut adalah “sudah”, maka kita dapat mengatakan pendidikan di suatu daerah tertentu berhasil. Pendidikan bukan tanggung jawab sekolah semata, pendidikan tanggung jawab bersama antara orang tua, pemerintah, dan masyarakat.
Keberhasilan dalam pendidikan (baca: UN) bukan sebagai sebuah gengsi yang harus didengung-dengungkan supaya gaungnya terdengar seantero nusantara, tetapi keberhasilan pendidikan akan dapat kita rasakan 10-20 tahun ke depan. Jadi seperti apakah bangsa ini setelah 10-20 tahun ke depan? Generasi yang penuh kejujuran, penuh daya juang, konsisten, dan berkomitmen serta berdedikasi untuk mensejahterakan keluarganya, masyarakatnya, dan bangsanya kah? Ataukah menjadi generasi yang penuh kebohongan, kepalsuan, kecurangan, dan kesemuan, serta tidak peduli akan keluarganya, masyarakatnya, dan bangsanya?
Mari kita renungkan bersama mau seperti apa pendidikan yang akan kita ciptakan untuk generasi muda penerus bangsa dalam rangka memajukan dan mencerdaskan bangsa Indonesia!!!

(Kutuliskan pemikiran ini sambil menemani tidur anak bungsuku. Anak2ku seperti apakah duniamu di masa datang?)

Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan

Baru saja saya membuka situs kemdiknas.go.id, ada hal yang seharusnya saya informasikan kepada teman-teman guru yang mungkin tidak sempat membaca atau memang belum mengetahuinya tentang Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Permendiknas RI) Nomor 10 Tahun 2009 dan Permendiknas RI Nomor 11 Tahun 2011 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan.
Pada Pasal 2 Ayat 2 Permendiknas No. 10/2009 diperbaharui pada Pasal 4 Ayat 2 Permendiknas No. 11/2011, dijabarkan bahwa uji kompetensi/sertifikasi dapat diikuti oleh guru dalam jabatan yang “memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV); belum memenuhi kualifikasi akademik S-1 atau D-IV apabila sudah mencapai usia 50th dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru atau mempunyai golongan IV/a atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/a; dan telah diangkat menjadi guru sebelum tanggal 30 Desember 2005.
Tercantum dengan jelas guru-guru yang berhak mengikuti sertifikasi.
Semoga informasi ini bermanfaat , sehingga tidak ada guru-guru yang dirugikan ^_^

Bahagianya berprofesi GURU

Hari ini, pkl. 04:45PM saya menerima sms dari seorang murid saya yang lulus SMA 4tahun yang lalu, Zamzam Nursani, dengan bunyi seperti ini: “Alhamdulillah.. Lulus cumlaude bu.. Terimakasih..
Ibu telah menjadi bagian paling berarti dlm pencapaian terbaik saya selama ini.. ” Terharu, gembira, bangga, dan tidak dapat berkata-kata…
Terimakasih anakku, engkau telah membuat gurumu ini bahagia. Juga untuk anak2ku yang lainnya, yang selalu ingat ibumu ini… (Maaf tidak bisa disebutkan satu-satu, diantaranya anak2 biosmart yang sudah lulus maupun yang sedang melanjutkan pendidikan tinggi)^_^
Saya baru bisa merasakan sangat bergunanya seorang guru ketika murid-muridnya dapat merasakan peran guru bagi masa depan mereka.
Selain dituntut profesionalismenya, guru mempunyai kesempatan menghantarkan generasi muda meraih cita-cita dan harapannya…
Untuk Zamzam:
“Selamat atas prestasi yang telah diraih sebagai lulusan terbaik. Semoga ilmu yang engkau peroleh dapat bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan adik2 di almamater, serta berguna juga untuk masyarakat.
Terimakasih ya, mau melanjutkan “perjuangan” ibu.”
Doa ibu selalu menyertaimu… *_^

Orang Miskin yang Jadi “Orang”

Malam tgl 8 Juli, saya menonton acara reality show “Kick Andy”. Ternyata sangat menarik untuk disaksikan. Rasanya saya sudah lama tidak menonton televisi lokal, karena lagi kecanduan nonton film seri produksi TV-TV Amerika seperti CSI-All dan NCIS yang memperlihatkan kecanggihan dunia digital dalam mengatasi masalah kriminalitas.
Tapi, saat itu kebetulan ganti channel ke metro tv pas acaranya wajib disaksikan karena memberikan pembelajaran kepada penontonnya.
Dalam acara tersebut antara lain diceritakan keberhasilan Ir. Ciputra membangun bisnis property, sehingga bisnis keluarga tersebut dapat diwariskan kepada anak-anaknya…
Yang paling saya garisbawahi, ternyata keberhasilannya tersebut tidak diperoleh seperti sulap, abrakadabra, dalam sekejap kesuksesan dapat diraih!!! Tetapi kesuksesan diraih karena kerjakerasnya, tanggung jawabnya, dan disiplinnya serta mental pantang menyerah serta Ciputra juga taat beragama.
Tak ada keluhan karena dia orang miskin, sejak usia 12tahun ditinggal orang tuanya. Ia berjuang sendiri, dengan memanfaatkan kecerdasan, kepinteran, dan ketekunan maka ia dapat melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang tertinggi, tidak tanggung-tanggung Perguruan Tinggi (PT) yang dipilihnya pun Institut Teknologi Bandung. Saat itu merupakan PTN terbaik dan favorit.
Ciputra, salah satu contoh dari sekian banyak contoh serupa yang sangat baik untuk generasi muda, orang tua, dan masyarakat Indonesia. Keberhasilan dan kesuksesan dapat diraih bukan karena faktor uang yang utama! Diri sendirilah yang dapat menentukan sukses tidaknya dalam kehidupan… ^_^
Untuk masa kini, banyak murid-murid saya dapat melanjutkan pendidikan tanpa meributkan biaya masuk ke PTN favorit yang mereka inginkan. Padahal setahu saya mereka bukan dari keluarga yang kekayaannya melimpah, tetapi mereka memiliki impian, kecerdasan, kepinteran, ketekunan, disiplin, tanggung jawab, dan mental berkompetisi yang kuat serta keimanan sebagai bekal mereka meraih kesuksesan dan keberhasilan yang diharapkan. Akhirnya, beasiswapun mereka raih, sehingga tidak dipusingkan soal biaya pendidikan.
Saya ingat akan sebuah ceramah yang disampaikan seorang ustadz, ketika manusia berprasangka baik maka Allah SWT pun akan berprasangka baik, tetapi ketika manusia berprasangka buruk maka Allah SWT pun akan berprasangka buruk (mudah2an saya tdk salah ketika menyimak ceramah tersebut). Saya berpikir ketika kita punya mimpi, maka Allah SWT akan mengiringinya dan mewujudkannya kalau untuk kebaikan. Insya Allah…
Jadi, siapa bilang pendidikan hanya untuk orang kaya?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.481 pengikut lainnya.